Bagi mereka yang suka nonton serial TV ‘Misteri Gunung Merapi’ yang tayang beberapa tahun silam, tentu tak asing dengan sosok yang satu ini: Mak Lampir. Mak Lampir digambarkan sebagai makhluk setengah manusia setengah siluman, berwajah buruk dan sangat jahat. Tentu yang mengusik keingintahuan kita, benarkah sosok Mak Lampir pernah ada dan bukan sekedar dongeng belaka? Kalau benar dulu Mak Lampir pernah hidup, seperti apa kisah sebenarnya?  


Masyarakat Sumatera Barat, khususnya di Kabupaten Agam, sangat percaya bahwa Mak Lampir memang pernah ada. Cerita ini  beredar turun-temurun di masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Merapi (Marapi) – gunung setinggi 2.891 meter yang dikenal angker dan menyimpan banyak  misteri. Masyarakat percaya hingga saat ini roh Mak Lampir masih bersemayam di gunung tersebut.  

Menurut cerita, Mak Lampir dulunya seorang wanita cantik, berasal dari Negeri Campa (Vietnam). Ia merupakan putri dari Kerajaan Chiêm Thành, sebuah kerajaan Vietnam kuno yang berkuasa pada abad ke-18. Dikisahkan, suatu ketika Mak Lampir bertemu dengan seorang pria, pimpinan pasukan harimau yang berjuluk Datuk Panglima Kumbang. Mak Lampir langsung jatuh hati. Sayangnya, niatnya ini tidak direstui orang tuanya.  

 


Dengan hati hancur Mak Lampir lari dari istana. Ia mengembara jauh ke selatan hingga terdampar di Pulau Sumatera. Saat itu timbul keinginan Mak Lampir bertemu dengan pujaan hati, Datuk Panglima Kumbang. Ia mendengar tentang sepak terang Datuk Panglima Kumbang sebagai pimpinan manusia harimau di sekitar Sumatera Barat, Lampung dan Bengkulu. Tak berlebihan jika Datuk Panglima Kumbang selalu dikaitkan dengan legenda 7 Manusia Harimau.

Namun setelah bertahun-tahun mencari, Mak Lampir tak juga bersua dengan sang pujaan hati. Dalam keputusasaannya, ia memutuskan menyepi ke Gunung Merapi. Di gunung ini Mak Lampir bertemu dengan seorang pertapa sakti. Mak Lampir berguru ilmu kepadanya. Mak Lampir tak perduli meski ilmu yang diajarkan si pertapa beraliran hitam. Hatinya yang telah membeku karena cinta yang bertepuk sebelah tangan membuatnya menjadi sosok yang bengis dan kejam. Lebih-lebih setelah ia menguasai ilmu tingkat tinggi tanpa tandingan.

 


Sampai suatu ketika Mak Lampir akhirnya bertemu juga dengan Datuk Panglima Kumbang. Namun bukan dalam suasana romantis, keduanya bahkan terlibat dalam pertempuran yang hebat. Datuk Panglima Kumbang tewas di tangan Mak Lampir. Saat itulah baru diketahui kalau sebenarnya Datuk Panglima Kumbang juga memendam rasa terhadap Mak Lampir. Mak Lampir menangis sejadi-jadinya, menyesali kematian sang pujaan hati.

Dengan segala kemampuannya, Mak Lampir mencoba menghidupkan kembali Datuk Panglima Kumbang. Ia berusaha mengikat roh pujaan hatinya itu ke alam nyata. Dengan ilmu sakti yang dimilikinya, hal itu sebenarnya bisa dilakukan. Namun syaratnya sangat berat. Ia harus rela mengorbankan kecantikan fisiknya, dari wanita muda nan jelita berubah menjadi nenek tua mengerikan. Ternyata Mak Lampir rela kehilangan kecantikannya demi cintanya kepada Datuk Panglima Kumbang.

 


Begitulah. Datuk Panglima Kumbang akhirnya bisa dihidupkan kembali. Saat itu Mak Lampir berharap Datuk Panglima Kumbang bisa mengerti isi hati dan pengorbanannya. Dirinya rela menjadi wanita buruk rupa semata-semata agar sang pujaan hati bisa dihidupkan dari kematiannya.

Ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Melihat rupa buruk Mak Lampir, Datuk Panglima Kumbang menduga wanita itu adalah siluman jahat yang selama ini menebar teror dan meresahkan masyarakat. Sekali lagi, Mak Lampir dan Datuk Panglima Kumbang terlibat pertempuran. Bahkan lebih hebat.  

Sejak itu demi melampiaskan kemarahannya kepada Datuk Panglima Kumbang, Mak Lampir benar-benar berubah menjadi siluman jahat. Siapa pun yang berani melawan bakal dihabisinya. Pendeknya sejak itu tidak ada lagi sifat-sifat manusia yang melekat pada diri Mak Lampir. Jiwanya hanya dipenuhi nafsu untuk membunuh.

 


Versi lain tentang Mak Lampir, setelah merasa ilmunya tak terkalahkan dan tak ada lagi musuh yang mampu menandinginya, ia punya keinginan yang tak masuk di akal. Yakni ingin hidup abadi alias tidak pernah mati. Nyawa Mak Lampir baru terenggut setelah kiamat datang.  

Merasa tempat dirinya bersemayam saat itu (Gunung Merapi di Kabupaten Agam) tidak akan mampu mewujudkan keinginannya, Mak Lampir mengembara ke Pulau Jawa. Salah satu gunung tertinggi di Jawa, sama-sama bernama Merapi, menjadi jujukannya. Di sini ia bersekutu dengan penguasa alam gaib, penjaga Merapi, membantunya merealisasikan keinginan bisa hidup abadi. Sampai sekarang masih banyak  yang percaya bahwa Mak Lampir telah hidup abadi dengan membangun kerajaan silumannya di puncak Merapi.

 

Ada juga kisah lain yang menuturkan kalau Mak Lampir dulunya anak keluarga miskin. Hidupnya terlunta-lunta. Sampai akhirnya ia bertemu Nenek Srintil dan diasuhnya. Mereka memutuskan hidup di Gunung Merapi.

Menjelang dewasa, Mak Lampir bertemu seorang pemuda asal Pulau Sumatera, Datuk Panglima Kumbang namanya. Mak Lampir pun jatuh cinta. Singkat kata, mereka pun menikah. Sayangnya setelah lama membangun mahligai rumah tangga, pasangan ini belum juga dikaruniai keturunan. Mungkin karena kecewa, Datuk Panglima Kumbang meninggalkan Mak Lampir begitu saja.   

Merasa dikhianati sang suami, perangai Mak Lampir jadi berubah. Ia gampang marah dan menjadi bengis terhadap sesamanya. Karena setiap saat terus merenungi kepergian Datuk Panglima Kumbang, hal itu berpengaruh pada fisiknya. Mak Lampir terlihat cepat tua. Wajahnya kusut, rambutnya memutih.

Puncaknya, ia memutuskan bertapa di sebua goa sambil memperdalam ilmunya. Sejak itu sifat angkara murkanya menjadi-jadi. Siapapun yang berani masuk ke wilayahnya tidak dibiarkan hidup. Acapkali Mak Lampir juga menggunakan tumbal nyawa manusia untuk meningkatkan ilmu hitamnya.

Suatu ketika Mak Lampir bertempur melawan kelompok putih. Ia kalah dan dimasukkan ke dalam peti. Namun tak berselang lama, Mak Lampir bisa lolos dari peti tersebut. Ia kembali berkuasa di singgasananya di puncak Merapi. Hingga kini.

Bahwa Merapi sangat angker dan menjadi istana para lelembut, seperti halnya Mak Lampir, hal itu dibenarkan mendiang Mbah Marijan – juru kunci gunung itu yang tewas akibat awan panas. Suatu ketika Mbah Marijan berujar, “Sesungguhnya Gunung Merapi merupakan kerajaan para makhluk halus. Namun tidak sembarang orang bisa melihatnya. Hanya mereka yang memiliki kelebihan atau sang penguasa alam gaib itu sengaja menampakkan keberadaannya.”

Salah satu tempat angker di Merapi adalah Pasar Bubrah. Lokasinya di dekat pos terakhir untuk pendaki. Tempatnya tandus dan gersang, sangat berbeda dengan wilayah Merapi lainnya yang terlihat segar ditumbuhi tanaman hijau. Tempatnya yang tandus dan gersang berbeda dengan keadaan lereng dan gunung pada umumnya yang dipenuhi tanaman-tanaman hijau, dan segar. Di tempat ini banyak berserakan batu-batu besar yang merupakan sisa-sisa letusan Gunung Merapi.

Di tempat ini jika malam tiba, suasana menjadi ramai meski tidak terlihat secara kasat mata. Banyak yang percaya lokasi Pasar Bubrah merupakan pasar para lelembut. Di sini mereka bertransaksi layaknya jual beli di alam manusia untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari. (*)

 

 

     Di mana anda bisa datang dan berkonsultasi dengan Jeng Asih?

JAKARTA :
Hotel Melawai 2 Jl Melawai Raya No 17 Blok M Jakarta Selatan Tlp (021) 2700447 Hp 08129358

PATI :
Jl Diponegoro No 72 Pati-Jawa Tengah Tlp (0295) 384034 Hp 08122908585 [Selasa dan Rabu]

BATAM :
Nagoya Plaza Hotel [Setiap Kamis dan Jumat (Minggu I)]

 

10 Terpopuler