Banyak tempat di negeri ini yang menawarkan cara memperoleh kekayaan lewat proses instan. Tanpa harus bekerja keras bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup, tapi rezeki mengalir dengan deras. Tak harus membanting tulang, namun harta yang dimiliki berlimpah ruah. Proses mendapatkan harta seperti membalik tangan seperti ini lazim disebut pesugihan.
    

Pesugihan diperoleh dengan melakukan ritual khusus. Ada ikatan perjanjian dengan syarat-syarat tertentu yang harus dipatuhi oleh mereka yang menginginkan pesugihan. Syarat perjanjiannya bervariasi mulai dari yang biasa atau ringan sampai dengan yang berat. Dari hanya sekedar menggelar ritual dengan mempersembahkan sesajen binatang sampai dengan mengorbankan nyawa. Baik nyawanya sendiri maupun keturunannya. Ngeri memang.

Salah satu lokasi pesugihan yang menurut penulis cukup seram terkait dengan syarat pengorbanannya adalah Ngujang. Ngujang adalah sebuah desa yang masuk dalam wilayah Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungangung, Jawa Timur. Lokasinya berupa komplek pekuburan umum, di selatan jembatan Sungai Brantas.

Sepintas, jika sudah berada di lokasi ini, kita tak menemukan sesuatu yang istimewa. Lokasi pekuburan Ngujang terletak persis di pinggir jalan. Di depannya, nampak komplek pemakaman Cina. Sehari-hari pekuburan ini terlihat sepi. Jarang sekali orang lalu-lalang masuk ke komplek makam ini. Kalau pun ada bisa dihitung dengan jari.

Namun jika hari mulai gelap suasana di pekuburan ini berubah 180 derajat. Beberapa wanita dengan dandanan menor dan pakaian seksi mulai bermunculan. Rupanya tak jauh dari pekuburan ini ada komplek lokalisasi. “Wanita-wanita ini cari rezeki saat malam. Kalau siang, mereka tidur,” kata Pak No, pemilik warung kopi di pintu masuk kuburan Ngujang.

Selain pekerja seks komersial, pekuburan ini dihuni ratusan makhluk lain. Makhluk yang usil dan suka menganggu pengunjung yang datang. Monyet! Jadi kalau hendak masuk ke pekuburan ini, siap-siap saja diganggu oleh mereka. Saran saya, jangan suka menenteng-nenteng barang yang bisa memancing perhatian mereka. Begitu anda lengah, barang itu dicolongnya lalu dibawa naik ke genteng sebuah rumah yang terletak persis di depan komplek kuburan tersebut.  

Tak jelas sejak kapan kawanan monyet itu mendiami kuburan Ngujang. Dari cerita yang beredar, keberadaan kelompok monyet itu terkait dengan mitos pesugihan yang ditawarkan di pekuburan ini. Namanya pesugihan monyet ngujang.  

“Disebut begitu, karena syarat untuk mendapatkan pesugihan di tempat ini sangat berat. Setelah si pencari pesugihan mendapatkan harta berlimpah, maka ia harus membayar tumbal untuk harta yang diperolehnya. Sebagai tumbal, ia harus mengorbankan kerabat atau dirinya sendiri menjadi monyet ketika ajal menjemput. Monyet jelmaan kerabat atau dirinya itu akan menghuni pekuburan ini,” ungkap Wignyo, seorang spiritualis asal Tulungangung yang tercatat sebagai salah satu juru kunci kuburan Ngujang.

“Jadi monyet-monyet yang berkeliaran di pekuburan ini tak lain adalah jelmaan para pencari pesugihan yang telah berubah wujud. Dari manusia menjadi monyet. Itu syarat yang mesti dibayar bagi pelaku pesugihan monyet Ngujang. Tidak bisa diubah lagi,” imbuh Wignyo.

Ketika pelaku pesugihan masih hidup, secara berkala ia wajib membayar tumbal sesajian ke Ngujang.  Dari sesajian biasa berupa makanan atau kembang setaman sampai tumbal nyawa jika ia menginginkan kekayaan yang lebih besar. Saat itulah pelaku pesugihan harus tega mengorbankan nyawa keluarganya atau kerabat dekatnya. Dari anak, istri, suami, kakak atau adik sampai dengan paman, tante, sepupu atau ipar.

“Apapun yang diinginkan pelaku pesugihan bisa dipenuhi. Asal ia berani membuat perjanjian gaib dengan penguasa di sini. Termasuk mengorbankan nyawanya sendiri,” kata Wignyo.

Anehnya meski banyak pelaku pesugihan kemudian berubah menjadi seekor monyet saat ajal menjemput, tapi jumlah monyet yang ada di Ngujang tak pernah berubah. Jumlahnya senantiasa tetap, tidak berkurang dan tidak bertambah.    

Wignyo pun wanti-wanti bagi para pengunjung agar tidak sekali-kali menangkap monyet di tempat itu dan membawanya pulang. “Banyak kejadian begitu monyet dibawa pulang, beberapa hari kemudian orang itu meninggal dan si monyet lenyap begitu saja. Mereka harusnya percaya monyet di sini bukanlah monyet sungguhan, tapi monyet jadi-jadian. Jelmaan para pencari pesugihan,” ucapnya serius.

Versi lain, kawanan monyet di Ngujang merupakan jelmaan 2 santri sebuah pondok pesantren yang terletak tak jauh dari komplek kuburan itu. “Pondok pesantren itu sampai saat ini masih ada, persisnya di Desa Ngantru,” terang Tohir, seorang warga setempat.

Ceritanya, suatu hari sepasang santri di ponpes itu sengaja membolos tidak mengikuti pengajian. Keduanya lantas bermain-main di area pemakaman. “Dulunya di pemakaman ini banyak ditumbuhi buah-buahan. Karena asyiknya mencari buah dan memanjat pohon, mereka lupa kembali ke pondok, ikut pengajian rutin,” cerita Tohir.  

Nah tengah asyik bermain-main, datang salah seorang kiai Namun, tiba-tiba datang salah satu kiai mereka. Kedua santri itu yang tengah memanjat pohon itu ditegurnya. "Nduk, le, kalian kok nggak ikut ngaji? Lihat teman-teman kalian sedang mengaji di pondok. Kalian kok malah manjat-manjat pohon, kaya monyet saja,” kata sang kiai.

Mungkin karena kesaktiannya, setelah menegur begitu tiba-tiba saja kedua santri itu berubah menjadi dua ekor kera. “Selanjutnya sejak itu kedua ekor kera tersebut hidup di kuburan ini. Beranak pinak dan jumlahnya menjadi banyak seperti sekarang. Mereka juga berbaur dengan kera-kera jelmaan mereka yang mencari pesugihan. Lokasi ini lantas dinamakan Ngujang, berasal dari kata pawejangan. Artinya tempat menuntut ilmu,” tutur Tohir.

Seorang pelaku pesugihan Ngujang yang telah terikat perjanjian dengan sang gaib di situ akan mendapatkan seekor kera untuk dibawa pulang dan dipelihara. “Ini cuma simbol. Selama kera itu masih hidup dan dipelihara dengan baik, maka rezeki terus mengalir tak henti-hentinya. Sampai yang bersangkutan kaya raya,” katanya.

Kendati praktek pencari pesugihan di Ngujang tidak dilakukan secara terang-terangan, namun dari bisik-bisik yang didengar penulis hal itu masih berlangsung hingga sekarang. Ada dua juru kunci yang bersedia memandu pengunjung yang berniat ngalap berkah kekayaan. Agar tidak terlihat vugar, mereka jarang berada di lokasi tersebut. “Tapi kalau ada yang minat, nanti bisa dipanggilkan,” ujar Supri, tukang ojek yang biasa mangkal di situ.  

“Mereka ini yang akan membimbing ritual dan menetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi orang yang hendak ngalap berkah,” imbuhnya.

Atas permintaan penulis, Supri bersedia menjemput salah seorang juru kunci. Namanya sebut saja Santoso. Sengaja disamarkan atas permintaan juru kunci itu sendiri. Ternyata kedua juru kunci ini memiliki jadwal tertentu untuk melayani para tamu. Terbatas hanya dua kali sehari, yaitu sekitar pukul 16.00 WIB sore atau pada pukul 01.00 WIB dini hari.  
    
Karena hari masih siang, penulis terpaksa harus sabar menunggu hingga waktunya tiba untuk bertemu dengan Santoso. Sekitar pukul 16.10 WIB, Santoso tiba setelah dijemput oleh Supri. Tanpa banyak bicara ia menyalami penulis, lalu mengajak berjalan ke arah sebuah cungkup kuno yang terletak di tengah-tengah kuburan ngujang. Masyarakat sekitar meyakini cungkup itu merupakan makam Sunan Syech Sarkelo, seorang ulama kondang di zamannya.

Santoso kemudian mengajak ngobrol, bertanya sana-sini, sekedar memastikan bahwa penulis benar-benar ingin ngalap berkah pesugihan. Karena penulis bisa meyakinkan kalau keinginan ini memang serius dan tidak main-main, Santoso pun membeberkan berbagai syarat berat yang harus dipenuhi. Setelah penulis mengangguk setuju, Santoso berdiri dan membawa penulis ke sebuah sumur tua yang terletak persisi di sampintg cungkup Sunan Syech Sarkelo.  

Di mulut sumur itu, Santoso terlihat komat-kamit seperti merapal sebuah mantera. Matanya terpejam. Sesaat kemudian ia kembali membuka matanya. Lalu memandang penulis dengan sorot mata yang tajam. “Sekali lagi, saya bertanya pada bapak. Benarkah bapak ingin ngalap berkah pesugihan di sini dan siap dengan segala syarat dan  resikonya?” tanya Santoso. Penulis mengangguk beberapa kali.

Masih dengan mimik serius Santoso mendekati penulis. Dengan telapak tangannya, ia mengusap wajah penulis.  “Sekarang coba bapak lihat ke dalam sumur ini. Lihat baik-baik, bapak melihat siapa saja di sana,” kata Santoso.

Mula-mula, penulis tak melihat apa-apa di dalam sumur itu kecuali bayangan bulan yang terpantul di atas permukaan air. Tapi setelah dilihat lebih seksama, maka satu-persatu mulai muncul bayangan wajah keluarga penulis. Mulai istri penulis, anak-anak, adik-adik, sampai orang tua penulis. Santoso lalu berbisik di telinga penulis, “Ya mereka ini yang akan ditumbalkan. Silakan pilih yang mana? Semakin banyak yang ditumbalkan, harta yang bapak peroleh akan semakin berlimpah…”

Meski batin ini bergolak hebat namun sebisa mungkin penulis mencoba menahan diri. Saat ini yang dibutuhkan adalah kepandaian berakting agar Santoso benar-benar percaya bahwa penulis memang berniat ngalap berkah. Apapun syaratnya.  

Santoso menyebut sang gaib pengusaha kuburan Ngujang dengan Ndoro Bei. “Kalau memang bapak sudah mantap, nantinya ada ritual khusus sebagai ikatan perjanjian antara bapak dengan Ndoro Bei,” ujarnya.

Ritual itu biasanya digelar di sebuah ruangan di dekat sumur tua tersebut. Namun ada kalanya ritual juga dilakukan di pinggiran Sungai Brantas, di sebuah hutan kecil masih dalam komplek kuburan Ngujang. Berbagai perlengkapan sesaji harus disiapkan seperti kemenyan atau dupa, bunga, rokok, serta kain kafan. “Dalam ritual itu, bapak akan mendapat petunjuk gaib tentang syarat-syarat lanjutan yang harus dilakukan,” terang Santoso.

Jika semua ritual telah dijalani dan berbagai syarat dipenuhi, maka hanya dalam hitungan dua minggu si pencari pesugihan akan melihat hasilnya. Dengan cara-cara gaib yang tidak dimasuk akal ia mendapatkan kekayaan secara tiba-tiba. Dalam waktu singkat ia akan kaya raya. Tapi ingat, setiap sebulan sekali ia harus membayar janjinya dengan kenduri tumpleng komplit di makam Ngujang. Selain itu kelak setelah mati ia harus rela menjadi penghuni kuburan itu dalam wujud seekor kera!

.

TANGGAPAN JENG ASIH

-

Mencoba mengubah nasib dengan cara-cara tak halal yang dilarang oleh agama hanya menunjukkan bahwa iman seseorang itu lemah. Salah satu cara mendapatkan kekayaan dengan gampang adalah lewat pesugihan. Di Indonesia, cara-cara ini masih sering dilakukan. Padahal jelas-jelas ini musyrik dan bertentangan dengan norma agama.  


Tentang pesugihan Ngujang, saya sudah mengetahuinya sejak lama. Dan saya juga tahu sampai sekarang masih banyak yang berburu kekayaan ke sana. Mengabdikan diri pada sang gaib agar dirinya berlimpah harta. Tak perduli meski syarat untuk menjadi kaya raya sangat berat. Selain mengorbankan keluarganya, dia sendiri kelak setelah mati harus rela berubah wujud menjadi seekor kera.

Tentu saja, ini gambaran yang menyedihkan. Padahal untuk menjadi kaya, banyak cara bisa dilakukan. Selain bekerja keras, ada beberapa media gaib yang bisa membantu seseorang meningkatkan kualitas hidupnya. Misalnya Ajian Intan Kencana yang saya ciptakan sejak puluhan tahun silam. Media ini terbukti ampuh tidak saja membuat seseorang berkelimpahan rezeki, tapi juga berwibawa dan disegani orang-orang di sekitarnya.

Jika ia seorang pelaku usaha, energi positif yang dipancarkan oleh media ini akan membuat bisnisnya senantiasa lancar, banyak pelanggan, dan unggul dalam setiap persaingan. Kalau usaha seseorang maju, otomatis rezeki deras mengalir dan ia menjadi pengusaha yang kaya raya.

Jika ia seorang pegawai, media ini akan memancarkan energi simpatik yang membuat pimpinan dan teman-teman sekantor menyenangi dan mengaguminya. Kalau sudah begitu, peluang promosi atau maju dalam karir hanya tinggal menunggu waktu. Nasib baik akan selalu berpihak kepadanya, karena pimpinan dan teman-teman kantor mendukung setiap ide dan gagasannya.

Selain Ajian Intan Kencana, saya juga menciptakan Jimat Balung Sugih yang fungsi dan manfaatnya hampir sama. Yakni mengubah kondisi ekonomi seseorang, dari yang kekurangan menjadi berkelimpahan. Dengan cara-cara yang simpel, praktis, tanpa ritual yang ribet. Dan yang pasti, cara-cara ini sangat aman, halal, tanpa tumbal, serta tidak bertentangan dengan agama.

 

 

     Di mana anda bisa datang dan berkonsultasi dengan Jeng Asih?

JAKARTA :
Hotel Melawai 2 Jl Melawai Raya No 17 Blok M Jakarta Selatan Tlp (021) 2700447 Hp 08129358

PATI :
Jl Diponegoro No 72 Pati-Jawa Tengah Tlp (0295) 384034 Hp 08122908585 [Selasa dan Rabu]

BATAM :
Nagoya Plaza Hotel [Setiap Kamis dan Jumat (Minggu I)]

 

 

 
   

10 Terpopuler