Pernah dengar Sendang Jimbung di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yang terkenal dengan mitos pesugihan bulusnya?  Atau yang lebih dikenal dengan pesugihan Bulus Jimbung? Seperti halnya Gunung Kawi, tempat ngalap berkah yang terletak di Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes ini tak pernah sepi pengunjung. Bahkan setiap tanggal 8 Syawal yang datang mencapai ribuan orang.


“Mereka berasal dari berbagai kota di Jawa, bahkan luar Jawa. Berhari-hari Sendang Jimbung penuh sesak, mirip pasar malam,” ujar Karno, warga setempat.

Padahal jika dilihat sepintas tak ada yang menarik dari sendang ini. Sendang yang sehari-hari dimanfaatkan untuk mandi dan mencuci pakaian oleh warga itu tak begitu luas. Ukurannya sekitar 15x25 meter. Ada sumber air yang terus mengalir memenuhi sendang. Sejenis pohon beringin tumbuh di tepi sendang dan membuat suasana di sekitar menjadi teduh.




Di sendang itu hidup belasan ekor bulus. Bulus-bulus ini diyakini sebagai keturunan Kyai Poleng dan Nyi Poleng. Keduanya adalah cikal-bakal penghuni Sendang Jimbung. Dipercaya telah berusia ratusan tahun, kedua bulus ini memiliki ukuran raksasa. Beratnya sekitar 125 kg dengan diameter 155 cm.

Kedua bulus ini jarang menampakkan diri. Hanya pada saat-saat tertentu mereka muncul ke permukaan air. Selebihnya, mereka lebih suka bersembunyi di dalam goa persis di bawah pohon randu gumbala.  

Sayangnya, kedua bulus ini telah mati. Yang pertama pada 1980-an. Pasangannya menyusul kemudian pada 5 Desember 2009. Tengah hari itu seorang warga melihat bulus tersebut keluar dari goa dengan posisi terbalik. Setelah diangkat ke darah, diketahui bahwa bulus dengan berat lebih dari satu kwintal itu telah mati. Bangkai binatang itu sempat dibawa ke Kantor Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Klaten, sebelum dilarung ke laut.




Kyai Poleng dan Nyi Poleng bukan bulus biasa. Mereka dipercaya sebagai manusia pertama yang menghuni dan mendirikan Desa jimbung. Saat mudanya Kyai Poleng dikenal sebagai Joko Poleng, salah satu pendekar yang diandalkan Kerajaan Mataram untuk memerangi pemberontakan.

Projo Sugito, sesepuh desa yang dua kali menjabat Kades Jimbung mengungkapkan salah satu kesaktian Joko Poleng adalah mengubah diri dalam wujud binatang. Tak terkecuali sebagai seekor bulus. “Boleh dikata kesaktiannya mirip siluman. Ia mendapatkan semua itu karena menjadi murid kesayangan Nyi Roro Kidul,” ujar Projo.

Jauh sebelum dipercaya sebagai kesatria Kerajaan Mataram, Joko Poleng adalah seorang pengembara. Suatu ketika dalam pengembaraan itu ia tiba di tanah yang penuh rawa-rawa, yang kelak dikenal sebagai Rawa Jombor. Di sini, Joko Poleng memutuskan untuk menetap.




Saat itu Rawa Jombor masih sepi dikelilingi hutan lebat. Juga menjadi sarang penyamun. Melihat Joko Poleng tinggal seorang diri di tengah-tengah rawa, kawanan perampok menyatroninya. Niatnya hendak merampas barang bawaan Joko Poleng. “Namun dengan mudah para perampok itu dikalahkan,” cerita Projo.

Di salah satu dusun yang terletak tak jauh dari Rawa Jombor, Joko Poleng mendirikan rumah. “Untuk keperluan mandi, ia lalu membuat sebuah sendang. Karena airnya yang jernih dan tidak pernah kering saat musim kemarau, banyak warga sekitar yang turut memanfaatkan sendang terbut. Karena terletak di Desa Jimbung, maka sendang ini dinamakan Sendang Jimbung,” tutur Projo.  

Sebagai orang berilmu, setiap malam Jumat Kliwon Joko Poleng melakukan ritual dengan mandi kungkum di dalam sendang. Agar lelakunya ini tidak diketahui dan menjadi perhatian orang lain, ia suka menjelma menjadi seekor bulus. Namun suatu ketika, saat Joko Poleng tengah bersemedi di dalam sendang dan masih berwujud manusia, ada seorang warga yang melihatnya. Warga itu takjub lantaran sekujur tubuh Joko Poleng menjadi belang-belang, mirip kulit seekor bulus.

“Mungkin karena malu rahasianya diketahui, sejak itu Joko Poleng mendadak hilang. Keberadaannya tak pernah diketahui. Ia seperti raib dari Desa Jibung,” kata Projo.        




Versi lain yang beredar, terciptanya Sendang Jimbung terkait dengan dongeng kesengsemnya Dewi Mahdi, seorang putri dari Kerajaan Keling terhadap Joko Pathohan, bujang ganteng yang tengah menuntut ilmu di Jimbung.

Begitu cintanya Dewi Mahdi kepada Joko Pathohan, ia sampai mengutus kedua abdinya pasangan Kyai Poleng dan istrinya, Nyi Remeng (Nyi Poleng) untuk melobi Joko Pathohan. Namun ternyata cinta Dewi Mahdi bertepuk sebelah tangan. Meski beberapa kali Kyai Poleng dan Nyi Poleng datang merayu Joko Pathohan, namun upaya mereka tak pernah berhasil.

Dibujuk terus-terusan membuat Joko Pathohan menjadi geram. Ketika Kyai Poleng dan Nyi Poleng datang menemuinya lagi, serta-merta dari mulutnya keluar kutukan, “Kalian ini mirip bulus!”

Karena saat itu Joko Pathohan telah memiliki ilmu spiritual cukup tinggi, maka yang diucapkannya menjadi kenyataan. Seketika itu  Kyai Poleng dan Nyi Poleng berubah wujud menjadi sepasang bulus. Merasa menyesal dengan perbuatannya, Joko Pathohan mengeluarkan keris pusakanya dan menancapkan ke atas tanah. Seketika itu menyembur air yang sangat deras. Tak lama kemudian, tanah itu telah berubah menjadi sendang. Di dalam sendang itulah sepasang bulus jelmaan Kyai Poleng dan Nyi Poleng hidup serta beranak pinak. Hingga jumlahnya mencapai belasan ekor sampai sekarang.

Sebelum meninggalkan sendang yang kemudian dikenal sebagai Sendang Jibung, Joko Pathohan sudah mewanti-wanti agar sepasang bulus itu tak pergi kemana-mana. Joko Pathohan meramal bahwa nantinya sendang itu akan didatangi banyak orang dengan niat ngalap berkah. Ia berpesan agar Kyai Poleng dan Nyi Poleng melayani pengunjung yang datang karena akan member makan mereka.

“Memang tak mudah melihat wujud bulus-bulus penghuni Sendang Jimbung. Namun selalu ada warga yang mau membantu. Yakni dengan membawa potongan ikan yang diacung-acungkan di mulut goa. Tak lama kemudian bulus-bulus itu pasti keluar,” ungkap Projo.  

Pengunjung yang datang dengan niat mencari berkah biasanya membawa syarat yang sudah ditentukan. Di antaranya segelas air putih yang diisi kembang setaman, sebatang rokok klobot, kemenyan, tanah tempat tinggal pengunjung yang biasanya sudah dibungkus kain kafan. Lalu syarat itu diletakkan di dekat pohon di tepi sendang. Kemudian mereka ritual kungkum di dalam sendang. “Ritual ini biasanya dilakukan pada malam Jumat Kliwon,” kata Projo.




Saat ritual kungkum, pengikut pesugihan dipersilakan mengucapkan berbagai keinginannya agar mendapatkan limpahan. Pada saat bersamaan, tangannya mencabik-cabik daging ayam mentah yang nantinya akan disantap bulus-bulus penghuni sendang.

Syarat lainnya, pelaku harus memiliki usaha. Tak masalah usahanya itu dalam sekala kecil.  Karena semua itu formalitas belaka. Lewat usaha itu pelaku akan kebanjiran rezeki.

Jika memang jodoh dan niat pengunjung dikabulkan, ada kwajiban yang harus dipenuhi secara rutin. Yaitu menggelar tasyakuran setiap bulan Suro di Sendang Jimbung. Dan pada malam Jumat Kliwon sebisanya datang meski hanya sekedar menyapa sang gaib penghuni sendang.

Karena pesugihan Sendang Jimbung sangat mensakralkan bulus, ada pantangan bagi pelakunya untuk membunuh hewan ini, baik sengaja maupun tidak sengaja. Jika dilanggar akan fatal akibatnya. Nyawa ganti nyawa, tak lama kemudian si pelaku pasti menemui ajal.

Memberi makan siluman bulus di Sendang Jibung pada saat-saat tertentu menjadi syarat yang tidak bisa dilanggar alias harga mati. “Kalau kebetulan lupa, biasanya pengikut pesugihan ini akan diingatkan. Tiba-tiba saja muncul seekor bulus di rumahnya. Namun jika sampai 2-3 kali diingatkan tidak mempan, ia akan dipanggil sang gaib menghadap. Saat itulah hukuman dijatuhkan, kalau tidak mati ya berubah menjadi seekor bulus, ikut menghuni Sendang Jimbung,” kata Projo serius.  

Menurut Projo, para pengikut pesugihan Jimbung bisa dilihat dari perubahan fisik mereka. “Mula-mula seperti penyakit kulit biasa. Lalu tambah lama terlihat belang-belang. Semakin makmur kehidupannya karena harta yang berlimpah, belang-belang pada kulitnya semakin kelihatan. Puncaknya, fisiknya sangat mengerikan, sekujur tubuhnya belang-belang mirip bulus,” ujar Projo dengan mimik ngeri. (*)


Tanggapan Jeng Asih


Istilah kerennya, tak ada makan siangnya yang gratis. Jadi jika anda nekat mencari kekayaan dengan cara-cara yang tidak halal dan dikutuk Tuhan, pasti ada resiko yang mesti ditanggung di belakang hari. Misalnya pesugihan Bulus Jimbung ini, pelakunya akan meninggal dan berubah wujud menjadi seekor bulus.

Padahal banyak cara yang lebih halal dan diridhoi untuk mendapatkan kekayaan. Berbagai produk spiritual saya seperti Ajian Intan Kencana dan Jimat Balung Sugih adalah media paling aman untuk memperoleh harta secara berlimpah. Dijamin halal karena tidak bertentangan dengan norma agama.

Kenapa begitu, karena produk-produk ini diciptakan atas seizin-Nya. Hanya sebagai sarana untuk menarik rezeki. Semua tetap tergantung Yang Maha Kuasa. Karenanya saat menggunakan produk-produk gaib ini, anda diharuskan tetap berdoa, agar keinginan anda dikabulkan.  

    
Di mana anda bisa datang dan berkonsultasi dengan Jeng Asih?

JAKARTA :
Hotel Melawai 2 Jl Melawai Raya No 17 Blok M Jakarta Selatan Tlp (021) 2700447 Hp 08129358

PATI :
Jl Diponegoro No 72 Pati-Jawa Tengah Tlp (0295) 384034 Hp 08122908585 [Selasa dan Rabu]

BATAM :
Nagoya Plaza Hotel [Setiap Kamis dan Jumat (Minggu I)]

10 Terpopuler