Aku tak ingin mempercepat laju mobilku. Karena sejak dari Malang hujan turun cukup deras. Pandanganku agak terhalang oleh sapuan wiper yang menghalau air hujan di kaca depan. Waktu sudah mendekati tengah malam.


Meski ingin cepat-cepat balik ke Surabaya setelah seharian rapat di Malang, aku tidak mau mengambil resiko. Siapapun tahu jalur Malang-Lawang sangat rawan kecelakaan. Kondisi jalan yang bekelok naik di sekitar Pasar Lawang, memaksa pengendara berhati-hati. Apalagi saat hujan lebat.

Berhasil melewati tanjakan Lawang, ada sedikit rasa lega. Kecepatan mobil kukurangi. Sekitar 200 meter kemudian aku mulai menepi. Udara dingin di dalam mobil karena AC yang terus menyala membuat metabolisme tubuhku bekerja cepat. Muncul desakan untuk buang air kecil.  

Mobil berhenti di depan sebuah rumah besar. Rumah itu nampak sepi. Pintu-pintu dan jendela telah terkunci. Aman pikirku. Karena curah hujan masih cukup deras, aku bergegas turun dan mencari sudut yang paling aman. Pojok pagar rumah yang sangat tinggi menjadi pilihanku.

Sial. Belum juga kubuka resluiting celanaku, lamat-lamat terdengar suara teguran seorang wanita. Aku celingukan mencari sumber suara itu.

 

Persis di depan pintu utama, terlihat berdiri seorang wanita. Matanya memandangku lekat-lekat. Meski lampu di rumah itu tak terlalu terang, namun aku bisa melihat mimik wajahnya. Ramah dan bersahabat.

“Hujan-hujan begini, kenapa harus buang air di situ? Kenapa tidak masuk saja?” Ah, rasanya aku tidak percaya dengan pendengaranku. Wanita itu menawari aku masuk ke dalam rumahnya? Mustahil. Kenal saja tidak. Tentu aku orang asing baginya. Bagaimana mungkin ia menawari orang yang tidak dikenal masuk ke dalam rumahnya. Tengah malam lagi. Apalagi kondisi di sekitar rumah itu sangat sunyi. Mempersilakan orang asing masuk ke dalam rumah sama saja dengan mengundang bahaya.

Ketika aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri, wanita itu sudah berjalan mendekati pintu pagar. Tangan kanannya memegang payung. Biar tak kehujanan. “Ayolah masuk, jangan hujan-hujanan begitu. Nanti sakit…,” ucapnya sambil tersenyum.  

Tak kuasa menolak, aku mengikuti langkah wanita itu masuk ke dalam rumah. Dalam jarak begitu dekat, tercium aroma melati dari tubuhnya. Mataku yang nakal sesekali melirik ke arahnya. Wanita yang sempurna. Wajahnya cantik, tubuhnya aduhai.

Ketika sudah berada di ruang tamu, aku semakin jelas bisa menikmati kesempurnaan wajahnya. Kecantikan klasik, seperti banyak tergambar dalam beberapa lukisan kuno. Rasanya dalam tubuhnya mengalir beberapa ras darah yang berbeda. Semua itu memberi kontribusi pada kemolekan parasnya. Ada Jawa, Cina dan mungkin…Belanda?

Seperti bisa membaca pikiranku, wanita itu tiba-tiba menyela, “Oh ya, kamar mandinya ada di belakang. Lurus saja dari sini. Nggak usah sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri. Sementara itu,  aku mau menyiapkan teh hangat.”

Untuk bisa sampai ke kamar mandi, aku harus melewati sebuah lorong yang cukup panjang. Juga  beberapa kamar besar. Sepi. Sepertinya wanita itu yang menghuni rumah ini seorang diri. Rumah sebesar ini? Apa tidak merasa kesepian? Tidak takut?

Begitu aku kembali ke ruang tamu, wanita itu sudah menyajikan secangkir teh di atas meja. “Minumlah, mumpung masih hangat.”  

“Oh ya, orang tuaku masih ada di kebun teh. Kebetulan ada keluarga dari Belanda datang. Jadi mereka malam ini menginap di sana. Tapi mereka berjanji pagi-pagi sudah kembali ke sini,” ujarnya kemudian, seperti ingin menjawab berbagai pertanyaan yang muncul di benakku.

Wanita itu mengaku bernama Ellen. Lengkapnya Ellen Van Art. “Papaku Ruud Van Art, ia keturunan Belanda. Mamaku Katarina, blasteran Jawa-Cina dari marga Po,” tuturnya.

Ruud memiliki beberapa petak kebun teh di Lawang, warisan orang tuanya. Ellen merupakan putri tunggal. Saat ini usia Ellen genap 30 tahun. Meski orang tuanya tidak secara terang-terangan menunjukkan keinginan agar dirinya segera menikah, namun Ellen merasakan hal itu sebagai tekanan.  “Ya saya harus tahu diri. Saya bukan hidup di Belanda, tapi di Indonesia. Menjadi perawan tua merupakan aib di sini,” ucapnya lirih, nyaris tak terdengar.  

 


Wajah Ellen mendadak berubah. Mendung kesedihan mulai menaungi wajahnya yang rupawan. Matanya berkaca-kaca. “Andaikata Nick tidak sepengecut itu, saya sudah menikah. Tapi Nick tidak punya nyali, tidak berani memperjuangkan cinta dengan sepenuh hati,” keluh Ellen mulai terisak.   

Nick adalah pria berkebangsaan Irlandia yang pernah mengisi hati Ellen selama bertahun-tahun. Ia bekerja di sebuah kantor dagang Inggris di Surabaya. Ketika hubungan mereka semakin serius, Nick akhirnya mengaku kalau sudah punya keluarga di negaranya. Ellen tidak marah mendengar penjelasan Nick. Namun ia meminta Nick bersikap tegas. Jika Nick memilih dirinya, ia harus mau menceraikan istrinya.

“Nick bilang ia lebih mencintai aku. Ia berjanji akan menceraikan istrinya dan menikahi aku,” tutur Ellen dengan mata berbinar.

Beberapa waktu kemudian, Nick pamit pulang ke Irlandia. Selain untuk mengurus perceraian dengan sang istri, ibu Nick sakit keras. “Kata Nick ia tak akan  lama di Irlandia. Begitu urusan selesai, ia segera balik ke Indonesia,” cerita Ellen menirukan janji sang pujaan hati.  

Namun nyatanya, Nick tak kunjung kembali ke Indonesia. Setelah sebulan lebih, Ellen mulai gelisah. Apalagi sejak itu kontak mereka terputus. Ellen mencoba berkirim surat ke alamat Nick di Irlandia. Namun Nick tak membalasnya.

“Hal itu kulakukan beberapa kali, tapi Nick tetap tidak merespon. Apa alamatnya salah? Aku ragu. Karena alamat itulah yang diberikan Nick kepadaku. Katanya itu rumah orang tuanya,” ucap Ellen terdengar emosi.

Ellen tak mampu melanjutkan kata-katanya. Tangisnya pecah. Di tengah isaknya tangisnya, terdengar ia seperti menggumam. Nama Nick disebutnya berulang-ulang. “Kamu bukan laki-laki Nick, kamu terlalu pengecut,” umpatnya.

Nick memang tidak pernah kembali ke Indonesia. Kepergiannya menorehkan luka yang dalam di hati Ellen. Jiwa Ellen terguncang. Hampir setiap hari, dari pagi hingga malam, Ellen duduk termangu di teras rumahnya. Berharap Nick datang. Berharap pria pujaan hatinya itu menepati janji menikahinya.

“Ya aku masih tetap menunggunya. Terus menunggunya. Di sini, di teras rumah ini. Meski hati kecilku sering bicara, semua ini sia-sia. Karena mungkin sekarang Nick sudah bahagia dengan keluarganya. Nick sudah lupa dengan aku. Tapi aku akan tetap menunggunya. Tetap menunggu Nick,” kata Ellen.

Bagi Ellen, Nick segala-galanya. Seorang pria yang begitu mengerti tentang dirinya. Nick sangat sabar, suka mengalah. “Orang tuaku juga menyukai Nick. Karena itu mereka berharap aku menikah dengannya,” ujar Ellen sambil sesekali menghapus air matanya.

Ellen lalu bercerita berbagai kenangan indah bersama Nick. Mereka pernah berlibur sepekan ke Bali. “Nick romantis, ia pandai menyenangkan wanita. Kenangan di Bali bersama Nick sungguh tak terlupakan,” tuturnya.

Ellen terus bercerita tentang Nick. Dan mungkin karena kepandaiannya bercerita, perasaanku turut hanyut. Aku seperti bisa merasakan pedih dan bahagianya Ellen saat menjalin cinta dengan Nick. Tanpa terasa, fajar mulai datang. Jam besar di rumah Ellen sudah menunjukkan pukul 04.15. Rasanya sudah cukup mendengarkan ceritanya, aku hendak pamitan untuk pulang.

Rupanya Ellen menangkap kegelisahaanku. Ia segera berdiri dan duduk di sampingku. Ekspresinya mendadak berubah menjadi tidak ramah. Kedua tanganku dipegang erat-erat. Aneh, kurasakan tangannya begitu dingin.  Kulihat sorot matanya yang tajam seperti ingin menelanku mentah-mentah. Bulu kudukku kontan berdiri. Perasaanku dicengkeram ketakutan.  

Saat itu instingku mengatakan, Ellen bukan lagi seorang manusia. Karena perlahan-lahan wajahnya berubah menjadi bengis dan mengerikan. Ketika kedua tangannya mencengkeram pundakku, aku bisa merasakan napas panas keluar dari mulut dan hidungnya. Tidak ada lagi semerbak harum melati, melainkan bau busuk yang membuatku hampir muntah.

“Kenapa? Mau pulang?” hardiknya. Aku tak mampu berkata apa-apa. Nyaliku benar-benar ciut. Dan anehnya, tubuhku seperti lumpuh. Tak bisa digerakkan. Karenanya aku hanya bisa pasrah. Kalau memang nyawaku harus terenggut oleh siluman yang menyaru sebagai wanita cantik, mungkin sudah nasibku. Meski begitu tak henti-henti aku mengucap doa. Memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk menolong hamba Nya yang lemah.

“Kamu tidak boleh pulang. Aku sudah terlalu lama menunggumu. Kamu harus mau menjadi pengganti Nick. Kita akan menikah. Sebentar orang tuaku datang, mereka akan menjadi saksi pernikahan kita,” ujar Ellen.

Terdengar nada suaranya mulai melunak. Wajahnya yang terlihat bengis perlahan-lahan berubah seperti semula: cantik dan menawan. Sambil merapatkan tubuhnya ke tubuhku, jari-jari lentik Ellen mengelus-elus rambutku. “Kamu ganteng juga ya, nggak kalah dengan Nick,” rayunya sambil sesekali mencium pipiku.

Diperlakukan seperti itu, aku tak mampu bereaksi apa-apa. Tubuhku membeku, tak bisa digerakkan. Tak ubahnya seperti patung. Dalam kondisi normal dimesrai seorang wanita cantik tentu sangat menggairahkan. Tapi ini beda, wanita yang saat ini memelukku ternyata siluman berwujud manusia. Untuk mengusir rasa jijik aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan siluman wanita yang mengaku bernama Ellen itu mencumbuku penuh nafsu.

Ellen baru menghentikan aksinya ketika bel pintu berbunyi. “Oh itu orang tuaku sudah datang. Jadi juga ya kita menikah hi hi hi.” Terdengar tawanya yang menyeramkan.

Dengan langkah cepat ia bergerak ke arah pintu. Begitu pintu dibuka, aku melihat sepasang pria dan wanita dengan rambut yang sudah memutih. Pandangan keduanya terlihat kosong. Tanpa ekspresi. Dan mereka berjalan seperti robot, tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri.Begitu pun saat lewat di depanku, mereka tidak menoleh, pandangannya tetap lurus ke depan.

Dalam jarak begitu dekat, aku mencium bau anyir tubuh mereka. Aku terpaksa menutup mulut dan hidungku agar tidak muntah. Rupanya bau anyir itu berasal dari luka-luka di tubuh mereka mereka. Si wanita menderita luka di bagian belakang kepalanya: hancur dan masih banyak mengeluarkan darah. Sementara si pria menderita remuk di pundak belakang bagian kiri.

Keduanya terus berjalan tanpa menoleh dan masuk ke salah satu kamar di ujung lorong. Dalam sekejap, bayangan keduanya lenyap dari penglihatanku. Ketika pikiranku masih direcoki banyak pertanyaan tentang kedua pasangan tua itu dan apa yang terjadi pada mereka, terdengar jerit tangis Ellen. Lengkingan tangisnya begitu memilukan.  

“Ya, mereka itu kedua orangtuaku. Kamu lihat…mereka mengalami kecelakaan. Mobil mereka menabrak pohon. Mereka sudah meninggal. Mereka tidak bisa menjadi saksi pernikahan kita….!” Suara tangisnya semakin keras. Lalu tiba-tiba..…bluaaar! Terdengar bunyi ledakan dari arah dapur.  Bersamaan dengan  itu muncul percikan api. Dan dalam sekejap, api membesar dan mulai membakar beberapa ruangan yang ada di dalam rumah.

Anehnya meski api menghanguskan rumahnya, Ellen terlihat tenang. Ia bahkan tertawa. “Ha ha ha…lihat semuanya terbakar. Aku sengaja membakarnya. Dalam sekejap semua akan musnah… habis… lenyap… ha ha ha.”

Api dengan cepat melahap hampir sebagian besar rumah Ellen. Kini hanya ruang tamu tempat aku berada yang masih utuh. Udara amat panas yang memenuhi ruangan itu sepertinya mampu memulihkan tenagaku. Seluruh tubuhku mulai bisa digerakkan. Cepat-cepat aku berlari ke arah pintu.

Melihatku mencoba membuka pintu, Ellen berusaha mencegahnya. “Mau kemana kamu? Mau meninggalkan aku ya? Menjadi pengecut seperti Nick?” geramnya.

Tapi aku tak menggubris ucapan Ellen. Dengan sekuat tenaga, aku menendang pintu rumahnya. Sekali tidak berhasil. Namun pada tendangan  ketiga, pintu rumah itu terbuka. Aku baru menyadari ternyata di luar hari mulai terang. Sinar matahari yang memancar ke dalam rumah membuat Ellen terkesiap. Ia mundur beberapa langkah.

Kesempatan itu tak kusia-siakan, aku berlari sekencang-kencangnya keluar dari rumahnya. Setelah melewati pagar dan merasa sudah bebas dari cengkeraman Ellen, aku berlari ke arah mobilku. Di dalam mobil, aku masih sempat menoleh ke arah rumahnya. Ya Tuhan, jantung sepertinya mau copot. Karena yang kulihat sekarang, bukan lagi rumah besar yang mewah. Melainkan puing-puing rumah kuno yang tak terurus ditumbuhi semak dan ilalang.

Mendadak rasa ingin tahuku muncul. Karena itu niatku untuk cepat-cepat meninggalkan rumah Ellen kuurungkan. Sebaliknya aku keluar dari mobil dan mulai mengamati rumah itu dari balik pagar.  

Meski sudah menjadi puing dan hanya menyisakan beberapa dinding rumah, namun hal itu tak menutupi bekas-bekas kebakaran yang menghanguskan rumah tersebut. Masih tampak  sisa-sisa kayu penyangga yang terbakar. Juga dinding-dinding penuh jelaga.

Di dinding persis di atas pintu utama, meski agak kusam karena jelaga, samar-samar aku bisa melihat tulisan relief angka 1912. Ini semacam prasasti yang mencatat tahun pembangunan rumah.  Di bawahnya ada nama: Ruud Van Art. Itu ayah Ellen.

Jika dihitung hingga sekarang, sudah seabad lebih rumah ini didirikan. Dari bentuk arsitekturnya, tentu dulu adalah rumah yang besar dan mewah. Dan aku yakin orang tua Ellen sebagai sosok yang cukup terpandang saat itu.

Lalu bagaimana dengan Ellen sendiri? Aku sangat penasaran. Ya penasaran. Bagaimana seorang wanita blasteran Belanda yang cantik, putri tunggal pemilik kebun teh yang kaya raya, kisah cintanya berakhir dengan tragis. Patah hati, bunuh diri dan akhirnya menjadi arwah gentayangan yang suka menggoda setiap pria yang berhenti di depan rumahnya.

Cerita tentang Ellen yang berubah menjadi arwah gentayangan sudah banyak diketahui dan dialami tetangga yang tinggal tak jauh dari ‘Rumah Belanda’. Warga sekitar terbiasa menyebut kediaman keluarga Ellen dengan ‘Rumah Belanda’. Ellen sendiri akrab dipanggil Nonik.

“Kadang, malam-malam, di rumah itu muncul sosok wanita yang cantik. Itu Nonik. Ia bisa berdiri lama-lama di depan rumahnya. Tapi begitu didekati, ia langsung menghilang,” tutur Bu Sum, seorang penjual nasi pecel. Warung Bu Sum hanya berjarak sekitar 200 meter dari ‘Rumah Belanda’.

“Kadang kalau usilnya kumat, Nonik akan merayu lelaki dan  diajak masuk ke rumahnya. Banyak lelaki sudah menjadi korbannya. Tapi hanya digoda dan dibuat mainan, paginya  dilepaskan,” imbuh Bu Sum. (*)

 

 

     Di mana anda bisa datang dan berkonsultasi dengan Jeng Asih?

JAKARTA :
Hotel Melawai 2 Jl Melawai Raya No 17 Blok M Jakarta Selatan Tlp (021) 2700447 Hp 08129358

PATI :
Jl Diponegoro No 72 Pati-Jawa Tengah Tlp (0295) 384034 Hp 08122908585 [Selasa dan Rabu]

BATAM :
Nagoya Plaza Hotel [Setiap Kamis dan Jumat (Minggu I)]

 

10 Terpopuler