Sejak tadi Windi terlihat gelisah. Ia nampak tidak tenang menjalani ritual mitoni tujuh bulan kehamilannya. Sebagai wanita yang lahir di lingkungan keluarga Jawa, ia tidak bisa menolak tradisi yang diwarisinya secara turun-temurun itu. Apalagi tujuan dari ritual ini sangat positif, yaitu memohon kepada Yang Maha Kuasa agar janin yang dikandungnya bisa lahir dengan lancar dan sehat. Juga agar setelah dewasa kelak menjadi anak yang berbakti kepada orang tua.


Namun dari raut wajah Dini, kentara sekali kalau ia tidak sepenuh hati menjalaninya. Tidak bisa dipungkiri kalau wanita 32 tahun itu dengan terpaksa menjalani tahap demi tahap prosesi mitoni. Mulai dari siraman, brojolan, angreman hingga puncak prosesi yaitu dodol rujak.

Beberapa kali Dini melakukan kesalahan saat melakukan tahapan mitoni. Akibatnya ia harus mengulang dari awal. Untungnya ibu dan mertua perempuannya dengan telaten membimbingnya. Jika Dini salah melakukan sesuatu, mereka hanya tertawa dan tidak menegurnya.



Namun tidak seharusnya Dini melakukan kesalahan. Karena tahapan ritual itu terlalu gampang. Kelewat sepele bagi wanita penyandang gelar S2 seperti dirinya.  Penyebabnya karena ia tidak konsentrasi. Pikirannya melayang entah ke mana sehingga saat melaksanakan ritual mitoni ia gagal fokus.

Maka begitu ritual mitoni itu dinyatakan selesai, Dini langsung masuk ke dalam kamar. Lalu dikuncinya kamar itu dari dalam. Setelah itu seperti hendak melepas semua beban yang menyesaki dadanya, ia menangis sejadi-jadinya. Cukup lama Dini mengumbar air matanya. Ia tak perduli meski pintu kamarnya beberapa kali diketuk dari luar. Dini tengah sibuk dengan dirinya sendiri. Luka perasaannya kembali menganga. Pedih, perih.

Ini kehamilan Dini yang ketiga. Dua kehamilan pertama menyisakan duka yang mendalam. Kedua jabang bayi itu meninggal dalam kandungannya. Yang  pertama meninggal pada usia 6 bulan, janin kedua tak tertolong ketika usia kandungan Dini menginjak bulan kelima.



Semua terjadi begitu saja. Kedua jabang bayi itu meninggal tanpa ada tanda-tanda sebelumnya. Dokter menyatakan kondisi kedua janinnya itu sehat. Tak perlu ada yang dikhawatirkan. Maka ketika janin yang dikandungnya dinyatakan meninggal secara tiba-tiba, Dini merasakan langit seperti runtuh. Lebih-lebih kejadian menyakitkan itu juga menimpa kandungannya yang kedua.

Dini sepertinya ingin berteriak keras-keras memprotes. Ya kenapa petaka memilukan itu harus dialaminya dua kali? Ketika ia begitu lama merindukan momongan? Apa yang salah dengan dirinya? Beberapa dokter yang didatanginya memastikan kalau kandungannya sehat. Bahkan sangat sehat. Ia sangat hati-hati menjaga kandungannya itu agar tidak gugur saat hamil muda. Tapi kenapa saat usia kandungannya relatif cukup aman secara medis, mendadak datang musibah merenggutnya?

Cukup lama Dini mencoba menghapus peristiwa traumatis tersebut. Ketika kejiwaannya masih labil, ia bahka sempat bersumpah tak mau hamil lagi.

“Ya buat apa hamil kalau akhirnya meninggal dunia. Sebagai ibu yang mengandungnya, ini sangat menyakitkan,” keluh Dini.

Jika melihat sang istri sudah meratap seperti itu, Danang, suami Dini, berusaha menghibur dan menguatkan hatinya. “Ini sudah takdir Yang Maha Kuasa dik…yang tabah ya. Kita akan terus berusaha. Mudah-mudahan tak lama lagi kita punya momongan,” ucap Danang.

Benar juga, awal tahun ini Dini hamil lagi. Danang begitu gembira. Tapi sebaliknya Dini menyikapinya dengan biasa. Dua kali janin yang dikandungnya meninggal membuat hati pegawai sebuah perusahaan BUMN itu agak tawar. Kekhawatiran si jabang bayi akan mengalami nasib yang sama seperti kedua kakaknya terus menghantui pikirannya.

Ya Dini tidak terlalu berharap banyak. Jika nantinya kandungannya itu sehat dan bisa lahir dengan selamat, ia tentu sangat bersyukur. Namun bila yang terjadi sebaliknya, janin itu meninggal dalam rahimnya, ia akan menerimanya dengan lapang dada. Mencoba ikhlas dan tabah. Seperti diucapkan suaminya berkali-kali. “Kita ini cuma wayang dik, semua cerita tergantung sang dalang. Kita hanya bisa menjalani cerira itu, senang atau sedih…,” kata Danang.

Sebagai istri yang baik, Dini senantiasa menuruti nasihat suaminya. Ia dengan hati-hati menjaga kehamilannya, seperti pesan sang suami. “Banyak minum vitamin, cukup istirahat, jangan kerja terlalu capek. Dan yang tak kalah penting, berdoa kepada Allah SWT. Agar kehamilanmu kali ini diridhoi, si jabang bayi lahir selamat,” ujar Danang.

Sampai bulan ketujuh, kandungan Dini masih sehat. Dalam hati kecilnya Dini bersyukur. Saat itu mulai muncul harapannya agar janin yang dikandungnya tetap sehat dan bisa lahir dengan selamat. Tak henti-henti Dini memanjatkan doa. Puasa dan laku tirakat dijalani. Berbagai pantangan untuk wanita hamil pun dihindari.  

Namun menjelang prosesi mitoni yang mesti dilakukannya ketika kandungannya berusia 7 bulan, Dini merasa tegang. Bayang-bayang kelam yang menimpa kedua jabang bayinya kembali meneror pikirannya. Berbagai cara telah dicoba Dini untuk menentramkan perasaannya. Sehari menjelang ritual itu digelar, ia mengajak sang suami jalan-jalan ke mal. Mereka berburu makanan favorit sekaligus belanja untuk persiapan kelahiran bayi mereka.

Dan hari digelarnya acara mitoni itu pun tiba. Ternyata Dini belum juga bisa menghapus peristiwa memilukan itu dari ingatannya. Ia menjalani tahapan ritual itu dengan tidak tenang. Pikirannya melayang ke mana-mana. Dini berharap acara itu cepat selesai agar dia bisa menyendiri dan menumpahkan seluruh kegelisahannya.

Mungkin karena kelelahan menjalani prosesi mitoni ditambah menangis berjam-jam, Dini akhirnya tertidur. Menjelang mahgrib ia terbangun karena pintu kamar digedor cukup keras dari luar.  Terdengar suara suaminya dengan nada tinggi, “Dik kamu nggak apa-apa kan?”

Dengan ogah-ogahan Dini membuka pintu kamar. “Waduh, kamu kecapekan ya? Tadi aku sampai teriak-teriak kamu nggak juga bangun,” ucap Danang sambil mengelus kepala istrinya.

Dini tak menjawab. Matanya berkaca-kaca. Tak lama kemudian, tangisnya meledak. “Saya takut mas…yang dulu-dulu terjadi lagi,” kata Dini di sela isak tangisnya. Danang berusaha menghibur, namun kali ini tak mempan. “Kalau sampai aku keguguran lagi, ingat ya, demi Tuhan aku nggak mau hamil lagi. Selamanya. Titik!” sergah Dini.

Hari-hari berjalan begitu lambat. Dan itu sangat menyiksa batin Dini. Persalinan normal biasanya cukup membutuhkan waktu 9 bulan 10 hari. Artinya Dini hanya membutuhkan waktu 2 bulan lebih untuk melahirkan bayinya. Namun detik, jam, hari dan minggu dirasanya merangkak sangat pelan. Dini benar-benar tidak sabar.

Persis di bulan ke 8 lewat seminggu masa kehamilannya, pagi-pagi sekali Dini merasakan perutnya mulas. Semakin lama rasa mulas itu bertambah hebat. Meski menahan sakit, namun terselip perasaan luar biasa di hati ini. Ia mulai menduga-duga saat itu menjadi momen paling bahagia. Berbagai spekulasi dan pertanyaan memenuhi kepalanya.

“Mungkinkah ini saatnya aku melahirkan? Tapi usia kehamilanku kan baru 8 bulan? Prematur? Bayi ini akan kulahirkan secara prematur? Kalau benar lahir prematur, akankah bayiku nanti sehat?”  

Namun ketika berbagai pikiran itu berkecamuk di benaknya, tiba-tiba Dini seperti teringat sesuatu. Mendadak wajahnya menjadi berubah. Ia merasa heran karena sejak pagi janin yang dikandungnya itu tidak bergerak aktif seperti biasanya. “Padahal sebelum aku bangun, ia sudah menendang-nendang, seperti ingin membangunkan ibunya,” gumam Dini dalam hati.

Dengan reflek, Dini memegang perutnya, mengelusnya beberapa kali. Biasanya kalau disentuh begitu, si jabang bayi akan merespon dengan bergerak-gerak. Tapi kali ini tidak. Dini mencoba mengelus perutnya lagi. Tetap tidak ada respon. Kecemasan itu langsung menyergap Dini. “Mas..mas Danang…antar aku ke rumah sakit! Cepet mas!” teriaknya histeris.

Dini menangis dan menjerit ketika dokter yang memeriksa kandungannya dengan pelan menggelengkan kepalanya. “Maaf bu, anak yang sedang ibu kandung tidak bisa kami selamatkan…,” ujar si dokter lirih. Dini meraung-raung. Ia menendang apa saja yang ada di sekitarnya. Danang berusaha menenangkan istrinya, tapi Dini benar-benar kesetanan.

Setelah menjalani operasi untuk mengeluarkan janinnya yang meninggal, Dini masih harus menjalani perawatan di rumah sakit untuk pemulihan kondisinya. Dengan sabar Danang menunggui sang istri. Namun kali ini ia memilih tidak banyak bicara. Begitu pun dengan Dini. Sudah seminggu lebih ia memilih membisu dan memejamkan mata. Lebih-lebih jika sang suami datang mendekatinya.

Sampai suatu malam, Danang agaknya tidak mampu lagi mengungkapkan isi hatinya. Sebuah rahasia besar yang membuat Dini begitu menderita. Perbuatan kejam berkali-kali dilakukan dengan memburu materi yang berlimpah. Ya kekayaan, itulah yang dikejar Danang selama ini. Tak perduli ia harus mengorbankan apa saja. Termasuk janin yang di kandung Dini, darah dagingnya sendiri.

Lewat perjanjian sesat, Danang berhasil menumpuk materi. Usaha mebel yang ditekuninya maju pesat. Di kampungnya, ia dikenal sebagai pengusaha yang kaya raya. Semua itu diperolehnya hanya dalam tempo singkat. Rasanya tidak masuk di akal. Semua itu tercapai berkat pertolongan sang gaib dengan tumbal calon keturunannya. Janin-janin yang dikandung istrinya.

Danang beringsut mendekati Dini. Setelah dekat, ia berbisik pelan, “Dik, aku mau bicara..” Tapi Dini pura-pura tidak mendengar, matanya tetap terpejam. “Dik aku mau ngomong…aku minta maaf atas semua ini,” kata Danang lagi.

Dini terpaksa membuka matanya. “Maaf apa mas? Nggak ada yang perlu dimaafkan. Yang pasti aku nggak mau hamil lagi. Setelah ini aku mau KB,” ucap Dini ketus.

“Dik kamu masih ingat Mbah Joyo kan? Orang pintar yang dulu sering datang ke rumah kita,” ujar Danang.

“Memangnya kenapa?” tanya Dini mulai curiga.

Dengan suara berat Danang menjawab, “Dulu kita kan susah. Miskin. Aku selalu bermimpi menjadi orang kaya. Nah berkat bantuannya kita bisa begini, harta kita berlimpah..”

Mendengar pengakuan suaminya, Dini kontan bangun dari tidurnya. Ditatap mata suaminya dalam-dalam. “Teruskan mas…kamu harus jujur kepadaku,” ujar Dini terdengar mulai emosi.

“Ya itu dik..,” suara Danang terhenti. Ia tak mampu meneruskan kata-katanya. Dini yang terlanjur marah mencengkeram erat pundak suaminya. “Ya itu apanya mas?!” hardiknya. “Anak…anak.. yang kamu kandung itu…jadi..tumbal..nya…,” aku Danang terbata-bata.
Mendengar pengakuan suaminya, kepala Dini menjadi pening, pandangannya gelap. Ia pingsan. (*)

 

Catatan: Upaya mendapatkan kekayaan dengan cara gaib yang dilakukan Danang lazim disebut Pesugihan Anak Bajang. Umumnya tumbal untuk pesugihan ini memanfaatkan janin-janin yang meninggal karena keguguran. Arwah si jabang bayi yang gentayangan itu lantas dirawat dan dipelihara. Kelak si anak bajang itu akan membalas orang tua angkatnya dengan memberikan harta berlimah.  

 

 

     Di mana anda bisa datang dan berkonsultasi dengan Jeng Asih?

JAKARTA :
Hotel Melawai 2 Jl Melawai Raya No 17 Blok M Jakarta Selatan Tlp (021) 2700447 Hp 08129358

PATI :
Jl Diponegoro No 72 Pati-Jawa Tengah Tlp (0295) 384034 Hp 08122908585 [Selasa dan Rabu]

BATAM :
Nagoya Plaza Hotel [Setiap Kamis dan Jumat (Minggu I)]

 

10 Terpopuler